Wujud Perlawanan Tokoh Wanita: di –Era Modern–
Wujud Perlawanan Tokoh Wanita: di –Era Modern–
ARY FRASTIO
2125153727
3 SIS
Esai ini melihat wujud perlawanan dari tokoh wanita bernama Putri
Pambayun di dalam naskah drama karya Pramoedya Ananta Toer berjudul “Mangir”,
yang kemudian dihubungkan dengan kajian budaya wanita ‘era modern’ sekarang
ini.
Naskah drama Mangir karya Pramoedya
Ananta Toer mengangkat kembali cerita rakyat Ki Ageng Mangir Wanabaya dengan
beberapa perubahan terhadap cerita yang berkembang dalam masyarakat.
Perbedaannya sangat terlihat terutama pada posisi dan peranan tokoh perempuan
di dalamnya. Tak kalah dengan novelnya yang bernama “Tetralogi Buru” atau
“Tetralogi Pulau Buru” atau “Tetralogi Bumi Manusia” yang sempat masuk dalam
sastra Rusia dan Eropa, Naskah Drama Mangir Rupanya dilirik oleh Inggris
sebagai bentuk aliran Budaya Feminisme di Indonesia.
Tokoh perempuan di dalam drama Mangir bernama
Pambayun. Wujud perlawanan Pambayun terhadap budaya patriarki memberikan warna
yang jelas berbeda dalam drama tersebut. Melalui tokoh Pambayun, Pram
mengangkat persoalan perempuan yang dijadikan salah satu aspek menonjol dalam
drama Mangir karyanya. Bahwa sebenarnya dengan perempuan
dijadikan tempat kedua dalam menangani kehidupan masyarakat tidaklah selalu
benar. Perempuan juga mampu memilih apa yang dikehendakinya. Budaya patriarki
telah mengurung perempuan dalam kehidupan.
Dalam drama Mangir, Pambayun
merupakan seorang putri permaisuri Raja Mataram. Dalam kisahnya, Pambayun
dijadikan “senjata” oleh Panembahan Senopati (Raja Mataram) untuk memperluas
kekuasaannya sampai pada daerah Perdikan Mangir dengan cara mengalahkan Ki
Ageng Wanabaya.
Kukuh dalam pendiriannya membuat Panembahan
Senopati melakukan segala cara untuk mengalahkan Mangir. Meskipun harus
mengorbankan anaknya sendiri. Panembahan Senopati merupakan seorang Ayah dari
Pambayun yang berkuasa terhadap Keraton Mataram. Kekuasaannya di Mataram
berujung pada diutusnya Pambayun untuk menaklukan Ki Ageng Wanabaya dengan
menyamar sebagai waranggana untuk memikat hati Ki Ageng Wanabaya. Perempuan
dalam drama Mangir ini sebagian besar diwakili oleh Pambayun.
Tokoh Pambayun mencerminkan sosok fenomena perempuan di era modern saat ini.
Melalui tokoh Pambayun dapat diwujudkan sebagai media perlawanan terhadap
budaya Patriarki.
Wujud Perlawanan di dalam drama Mangir ini
memberikan dampak luas dalam pergerakan kaum wanita. Fenomena-fenomena wanita
berpendidikan tinggi, wanita karir dapat menjadi bentuk kongkrit
adanya perlawanan terhadap budaya patriarki. Sebagai wanita, dengan merasa
memiliki hak yang sama dengan laki-laki, maka hal ini dikarenakan wanita dan
laki-laki adalah sama sebagai manusia. Keduanya sama-sama diciptakan Tuhan
dengan tugas yang sama. Hal inilah yang mendasari tokoh wanita dalam
drama Mangir ini berani melawan ketidakadilan gender dari
budaya patriarki yang dialaminya.
Perlawanan terhadap budaya patriarki dalam
drama Mangir ini timbul karena adanya gejolak dari dalam diri
tokoh Putri Pambayun karena merasa tidak terima oleh perlakuan sistem
patriarki. Dengan kata lain, perlawanan timbul sebagai akibat ketidakadilan
yang dialami Putri Pambayun. Putri Pambayun mencoba untuk meraih haknya sebagai
manusia seperti dengan tokoh lain (laki-laki). Bentuk-bentuk perlawanan
tersebut dijabarkan dengan adanya fenomena wanita era modern, antara lain
adalah sebagai berikut.
A. Berani Mengemukakan
Pendapat
Sistem patriarki menempatkan perempuan pada
posisi subordinat. Perempuan dilabelkan sebagai seorang yang lemah, emosional.
Hal itu menjadikan perempuan merasa rendah diri sehingga memiliki sifat sesuai
dengan stereotipe yang diberikan. Sekedar menyampaikan pendapat, perempuan
dalam masyarakat patriarki tidak berani.
Adapun Putri Pambayun sebagai seorang wanita
berani mengemukakan pendapat atas ketidakadilan gender yang ia alami. Putri
Pambayun merasa bahwa dirinya juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki.
Putri Pambayun
(menatap Tumenggung
Mandarka). Bila begini jadinya, berapa kali aku masih akan berdusta dan
didustai lagi?
Kutipan dialog Pambayun di atas merupakan salah
satu bukti perlawanan Putri Pambayun yang tidak terima oleh kebohongan
Tumenggung Mandaraka terhadapnya. Dengan mengemukakan pendapat dirinya atas
perlakuan yang tidak ia harapkan.
Hal di atas dapat ditemukan dalam implementasi
era modern sekarang ini. Banyaknya wanita yang berpendidikan tinggi menjadi
faktor dalam beraninya seorang wanita dalam mengemukakan pendapat. Hal ini
tentu dapat menjadi tombak utama mengapa wanita era modern dapat bertingkah
laku seperti ini. Berani mengemukakan pendapat merupakan wujud perlawanan
terhadap budaya patriarki yang kini justru sudah menjadi budaya di Indonesia.
Wanita yang bekerja, memperoleh jabatan tinggi sudah terjadi di
Indonesia. Hal ini tentu memberikan gambaran bahwa wanita sudah bergerak maju
di era modern saat ini.
Tidak hanya pada dunia kerja saja, dengan
berpendidikan tinggi mahasiswi-mahasiswi berprestasi juga merupakan sosok dari
adanya bentuk berani mengemukakan pendapat. Era modern saat ini, dapat dijumpai
banyaknya wanita cerdas dalam meraih prestasi. Bentuk wanita cerdas juga dapat
dikaitkan dengan adanya mekanisme struktur untuk membangun sosok wanita yang berani
mengemukakan pendapat.
B. Menantang Laki-laki
Bentuk perlawanan yang selanjutnya adalah dengan
menantang laki-laki. Wanita pada posisi tertentu ketika sudah tidak bisa lagi
untuk melawan dengan cara lain adalah dengan menantangnya. Menantang dalam hal
ini adalah menyuruh untuk melakukan sesuatu terhadapnya.
Putri Pambayun
Inilah diri, hukumlah
semau hatimu.
Wanabaya
(menengadah ke langit,
pelan-pelan berdiri meronta kasar mele paskan kaki dari rangkulan Putri
Pamhayun, dengan tangan gemetar menanrik keris di tentang perut). Ah! (Keris
disarungkannya lagi. Mengangkat tangan menutupi kuping). Klinting (gemetar
suaranya) Baru Klinting. Betapa lama. Ke mana kau? (Melangkah cepat kesamping,
berseru). Klinting! (Kembali ke tengah panggung). Ah, Klinting. Tak pernah kita
berpisah kecuali demi perempuan ini (menuding pada Putri Pambayun). Tak pernah
berpi-sah, laksana petir dengan guruh, seperti bahu dengan tinju. Hanya karena
kau, perempuan Mataram, perempuan pendusta, ke mana aku sembunyikan mukaku ini?
(menengadah ke langit). Kau, Kau Yang Punya Hidup, Kau Yang Punya Mati,
tunjukkan padaku suatu tempat, di mana dapat kutaruh mukaku ini. (Menebah
dada). Jagad Dewa, Jagad Pramudita...
Putri Pambayun
(berdiri menghampiri).
Tiada kau hukum aku? Bumi dan Iangit tak dapat ingkari, inilah Putri Pambayun
Mataram istrimu, inilah bayi dalam kandungan anakmu, dua duanya tetap bersetia
kepadamu...
Putri Pambayun yang tengah terpojok dan tidak
bisa berbuat apa-apa lagi meminta Ki Ageng Wanabaya untuk menghukumnya. Hal
tersebut terjadi ketika Pambayun tidak mau lagi berbohong terhadap orang yang
ia cintai. Putri Pambayun mengatakan yang sesungguhnya kepada wanabaya tentang
siapa sebenarnya dirinya. Semua kebohongan yang telah terbentuk ia ungkap
semua. Hal tersebut menjadikan Putri Pambayun berada pada posisi yang sangat rendah.
Pada posisi ini Pambayun tidak bisa melakukan apa-apa selain menyuruh Ki Ageng
Wanabaya untuk menghukumnya.
Apabila dikaitkan dengan era modern saat ini,
kejadian menantang laki-laki terhadap sebuah kebenaran banyak terjadi. Misalnya
saja, kasus gugat cerai yang dilakukan oleh wanita. Dilansir dari
news.detik.com Jumat 10 November 2017, dr Letty menggugat cerai suaminya karena
adanya kekerasan. Contoh ini merupakan keberanian wanita untuk menantang sosok
lelaki. Wanita bukan sosok yang lemah. Dengan ini, membuktikan adanya fenomena
wanita era modern yang berani menantang laki-laki.
Dua pandangan antara 1) Berani mengemukakan
pendapat dan 2) Menantang laki-laki ialah perubahan peradaban budaya di era
modern saat ini. Fenomena-fenomena ini banyak ditemui di Indonesia. Tidak
melulu tentang bagaimana cara wanita diluluhkan oleh laki-laki, tapi juga
bagaimana perlawanan wanita jika merasa tertindas. Justru era modern ini banyak
memberikan pandangan bahwa wanita juga dapat mendapatkan hak yang sama. Setidaknya,
untuk persolan mengemukakan pendapat dan keadilan.
Daftar Pustaka:
Mardiastuti, Aditya.
https://news.detik.com/berita/d-3721161/balada-dr-letty-korban-kdrt-minta-cerai.
Diakses pada Sabtu, 30 Desember pukul 19.03 WIB.
Toer, Pramoedya Ananta. Drama Mangir.
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2000.
Komentar
Posting Komentar